Contoh Laporan Karya Ilmiah Biologi Sederhana

Contoh Karya Ilmiah Biologi. Baik pada kesempatan ini saya akan share seputar contoh laporan karya Ilmiah Biologi yang berhubungan dengan tes urine. Dalam membuat laporan karya ilmiah ada beberapa hala yang perlu diperhatikan yaitu :
  1. Tahap Persiapan
  2. Proses Penulisan
  3. Evaluasi
Sebelum lanjut ke contoh laporan karya ilmiah, alangkah baiknya anda pelajari jenis-jenis karya ilmiah di bawah ini agar anda bisa membedakan karya ilmiah yang dimaksud.

Ada 7 jenis karya tulis ilmiah yang sering kita jumpai. Berikut ini jenis dan penjelasannya.

1. Laporan Penelitian
Laporan penelitian merupakan sebuah laporan yang ditulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.

Misalnya; laporan penelitian tentang microba yang ditulis oleh mahasiswa jurusan biologi.

2. Artikel
Jenis yang kedua adalah artikel, yang sering banget kita jumpai, baik di internet, surat kabar maupun makalah. Secara singkat artikel merupakan sebuah tulisan yang berisi opini tentang suatu kejadian atau peristiwa yang ditulis secara subyektif.

Namun, jika di dalam karya ilmiah, artikel merupakan karya tulis yang disusun agar bisa diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Maka dari itu, artikel tersebut harus ditulis menggunakan kaidah-kaidah keilmuan yang diberlaku.

3. Makalah
Saya yakin kalian sudah tidak asing lagi dengan istilah makalah, teruatama kalangan para akademik. Makalah adalah sebuah karya tulis yang isinya membahas tentang data di lapangan yang bersifat empiris dan objektif terhadap suatu permasalahan.

Tidak hanya bersifat empiris dan objektif, seringkali makalah dirancang berdasarkan analisa logis penulis atas masalah tertentu. Pemikiran tersebut kemudian dituangkan ke dalam makalah secara sistematis dan rapi.

4. Kertas Kerja
Kertas kerja atau work paper sebenarnya mirip seperti makalah. Lalu apa bedanya? Bedanya terletak pada cara menyusunnya, dimana kertas kerja disusun dengan analisa yang lebih mendalam.

Selanjutnya, kertas kerja yang telah disusun akan dipresentasikan di hadapan para ilmuwan dalam sebuah forum, seminar atau lokakarya. Kertas kerja bisa menjadi acuan untuk melakukan penelitian lanjutan jika isi kertas kerja tersebut diterima dalam forum tersebut.

5. Skripsi
Siapa yang tidak kenal dengan istilah ini. Apalagi di kalangan mahasiswa tingkat akhir yang ingin segera mendapatkan gelar sarjana. Sebagian dari mereka menganggap skripsi adalah beban paling berat ketika menjadi mahasiswa.
Skripsi merupakan karya tulis ilmiah tentang penelitian skala kecil namun dengan pengkajian yang tajam dan mendalam. Skripsi ini disusun dalam bentuk laporan. Dalam penyusunannya, skripsi dibuat berdasarkan pendapat dan kesimpulan penulis terhadap pemikiran orang lain atas data yang diperoleh dari penelitian.
6. Tesis
Selain skripsi, salah satu syarat agar mahasiswa mendapatkan gelar sarjana terutama mereka yang menmpuh pendidikan S2 adalah tesis. Penelitian untuk menyusun tesis dilakukan lebih mendalam dibandingkan dengan skripsi.
Tesis adalah sebuah karya ilmiah yang isinya menguak pengetahuan baru yang bersifat empirik dan teoriti yang didapat ketika melakukan penelitian.
Empirik maksudnya dari pengalaman langsung sewaktu melakukan penelitian, dan teoritik adalah melakukan pengujian terhadap teori-teori yang sudah ada sebelumnya.

7. Disertasi
Bagi yang sedang menempuh pendidikan S3, pasti akan menjumpai karya tulis ilmiah jenis disertasi. Isi dari disertasi adalah temuan asli penulis tentang suatu pendapat yang bisa dibuktikan secara ilmiah oleh penulisnya.

Oleh sebab itu, dalam menyusun disertasi harus dilakukan penelitian yang mendalam dan diangkat dari kajian teoritik dengan dukungan fakta empirik.

Perbedaan yang terdapat pada skripsi, tesis dan disertasi adalah sebagai berikut:

Skripsi
  1. Isi penelitian hanya berisi pertanyaan “apa”, itu artinya penelitian skripsi hanya bisa menjelaskan tentang apa yang dikaji.
  2. Penelitian yang dilakukan tidak begitu mendalam.
  3. Dalam menyusun skripsi, mahasiswa harus mendapat bimbingan dari dosen.
Tesis
  1. Lebih jauh, penelitian karya ilmiah tesis mampu menjawab “apa” dan “mengapa”.
  2. Penelitian dilakukan secara mendalam.
  3. Mahasiswa yang menyusun tesis sedikit sekali mendapat bimbingan dari dosen. Dukungan dari pembimbing hanya 20%, selebihnya dilakukan oleh mahasiswa.
Disertasi
  1. Penelitian ini mampu menjawab pertanyaan “apa”, “mengapa” dan “bagaiman”. Sehingga hasil penelitian tidak melulu apa yang sudah terjadi, tetapi bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru.
  2. Dibandingkan dua diatas, penelitian disertasi dilakukan sangat mendalam.
  3. Hampir dalam penelitian ini, peran dosen pembimbing tidak ada. Semuanya dikerjakan oleh peneliti atau mahasiswa.
Baca juga postingan sebelumnya seputar Rumus Vektor Matematika. Nah dari ketiga bagian di atas, saya akan bahas pada kesempatan berikutnya. Langsung saja berikut contoh laporan karya ilmiah biologi :
contoh karya ilmiah biologi
Laporan Biologi Uji Urine :

Contoh Karya Ilmiah Biologi


BAB I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem ekskresi adalah system yang berperan dalam proses pembuangan zat yang sudah tidak diperlukan atau zat yang membahayakan tubuh, dalam bentuk larutan. Urin atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dalam tubuh melalui proses urinasi. Urin normal berwarna jernih transparan warna kuning muda. Urin beraasal dari zat warna empedu. Urine berbau khas jika diberikan agak lama, berbau ammonia pada kisar 6.8-7.2. kandungan air, urea, asam urat, ammonia, keratin, asam oksalat, asam fosfat, asam sulfat, klorida. Volume urine normal, kisaran 900-1200ml

Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu.Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit.

B. Rumusan Masalah
Ada beberapa urin yang akan diuji, dari urin tersebut dibuktikan bahwa urin mengandung berbagai zat amonia, glukosa, protein, dan kandungan klorida

C. Tujuan Penelitian
Mengetahui kandungan amonia, glukosa, protein, kandungan klorida dalam urin

D. Manfaat Penelitian
Dapat diketahui kandungan amonia, glukosa, protein, kandungan klorida dalam urin

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Struktur Ginjal
Ginjal terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan luar (korteks) yang mengandung jutaan alat penyaring (nefron). Setiap nefron terdiri atas badan malpighi (renal cospuscle), tubulus kontortus proksimal, bagian tebal dan bagian tipis lengkung henle, tubulus kontortus distal.

Badan malpighi terdiri atas berkas kapiler yang disebut glumerulus yang dikelilingi kapsul Bowman. Lembaran dalam yang menutupi kapiler glomerulus dinamakan lapisan viseral, lembaran luar membentuk batas luar tebal malpighi disebut lapissan parietal kapsula Bowmann yang dilapisi sel epitel pipih. Antara dua lapisan terdapat ruang kapsula yang menerima filtrat. Setiap badan malpighi mempunyai kutub vaskuler tempat arteri aferen masuk dan arteri eferen keluar meninggalkan glomerulus, dan kutub urinarius, tempat tubulus proksimalis dimulai.

Lapisan parietal yang berdinding selapis sel epitel pipih begitu sampai di kutub urinaria epitel berubah menjadi epitel kubus. Lapisan viseral mengalami modivikasi selama perkembangan embrional. Sel-sel lapisan internal dinamakan podosid, mempunyai badan sel dimana muncul beberapa tonjolan primer. Setiap tonjolan primer mempunyai banyak tonjolan sekunder yang menutupi kapiler glomerulus. Tonjolan sekunder ini saling bertautan, membatasi ruang yang membentuk celah filtrasi.

Antara sel-sel endotel kapiler dan podosid yang berlubang-lubang merupakan lapisan basalis. Membran ini merupakan struktur struktur kontinyu yang memisahkan darah kapiler dari ruang kapsular. Di samping se endotel dan podosid, kapiler glomerulus mempunyai sel mesangial. Sel mesangial ini bersifat kontraktil dan memainkan peranan dalam regulasi filtrasi glumerulus, juga mensekresi berbagai senyawa, mengambil kompleks imun dan terlibat dalam produksi penyakit glomerulus, juga bekerja sebagai makrofag dan berperan membersihkan lamina basalis dari zat-zat tertentu yang tertimbun dalam matrik selama filtrasi.

Tubulus kontortus proksimal manusia panjangnya + 15mm, dengan diameter 55µm. Dindingnya dibentuk oleh selapis sel tunggal kuboid yang saling menjalin satu dengan yang lain dan disatukan oleh tautan kedap apikal. Pada apeks sel yang menghadap ke lumen tubulus terdapat banyak mikrovili yang panjangnya 1µm , bentukan ini dinamakan brush border (batas sikat) yang berfungsi membantu absorpsi zat-zat (peptida, glukosa) yang keluar dari darah selama filtrasi.

Tubulus proksimal berakhir dengan segmen tipis pars desenden lengkung henle yang mempunyai epitel sel pipih yang tipis. Segmen tipis ini berakhir dalam segmen tebal pars asenden yang sel-selnya berbentuk kuboid yang banyak mengandung mitokondria. Pars asenden tebal lengkung henle mencapai glomerulus dan tubulus berdekatan dengan arteriol aferen dan eferen, dimana dinding arteriol aferen mengandung sel jukstaglomerulus (penskresi renin). Pada titik ini epitel tubulus dimodifikasi membentuk makula densa. Sel jukstaglomerulus, makula densa dan sel lapis bergrandula bersama-sama dikenal sebagai aparatus jukstaglomerulus.

Tubulus kontortus distal, epitel kuboidnya lebih rendah daripada tubulus proksimal, mempunyai mikrovili sedikit. Tubulus distal bersatu membentuk tubulus koligen yang berjalan melewati korteks dan medula renalis yang akan bermuara di pelvis renalis pada apeks piramid medula.

B. Proses pembentukan urin
1. Filtrasi (penyaringan)
Proses filtrasi terjadi di kapsul Bowman dan glomerulus. Dinding luar kapsul Bowman tersusun dari satu lapis sel epitel pipih. Antara dinding luar dan dinding dalam terdapat ruang kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal. Dinding dalam kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus (prodosit).

Proses filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik (tekanan darah) dan tekanan onkotik (tekanan osmotik plasma), dimulai ketika darah masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus, kemudian menuju membran dasar, dan melewati lempeng filtrasi, lalu masuk ke dalam ruang kapsul Bowman.

2. Reabsorpsi (penyerapan)
Proses reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan sebagian tubulus kontortus distal.reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitel di seluruh tubulus ginjal. Banyaknya zat yang direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu. Zat-zat yang direabsorpsi adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea.

Reabsorpsi terjadi secara transpor aktif dan transpor pasif. Glukosa dan asam amino direabsorpsi secara transpor aktif di tubulus proksimal. Reabsorpsi Na+, HCO3- dan H2O terjadi di tubulus kontortus distal.

Proses reabsorpsi dimulai ketika urin primer (bersifat hipotonis dibanding plasma darah) masuk ke tubulus kontortus proksimal. Kemudian terjadi reabsorpsi glukosa dan 67% ion Na+, selain itu juga terjadi reabsorpsi air dan ion Cl- secara pasif. Bersamaan dengan itu, filtrat menuju lengkung henle. Filtrat ini telah berkurang volumenya dan bersifat isotonis dibandingkan cairan pada jaringan di sekitar tubulus kontortus proksimal. Pada lengkung henle terjadi sekresi aktif ion Cl- ke jaringan di sekitarnya. Reabsorpsi dilanjutkan di tubulus kontortus distal. Pada tubulus ini terjadi reabsopsi Na+ dan air di bawah kontrol ADH (hormon antidiuretik). Di samping reabsorpsi, di tubulus ini juga terjadi sekresi H+, NH4+, urea, kreatinin, dan obat-obatan yang ada pada urin.

Hasil reabsorpsi ini berupa urin skunder yang memiliki kandungan air, garam, urea dan pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.

3. Augmentasi (pengumpulan)
Urin sekunder dari tubulus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin dibawa ke pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penimpanan sementara urin.

C. Sifat-sifat urin
Urine memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Volume urin normal orang dewasa 600 – 2500 ml/hari, ini tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/fisik individu. Produk akhir nitrogen dan kopi, teh, alkohol menpunyai efek diuresis.
2. Berat jenis berkisar antara 1,003 – 1,030.
3. Reaksi urin biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (bekisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urin menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urin menjadi alkali karena perubahan urea menjadi amonia dan kehilangan CO2 di udara. Urin menjadi alkali pada alkaliosis seperti setelah banyak muntah.
4. Warna urin normal adalah kuning pucat atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit urolobin dan hematopofirin. Pada keadaan demam, urin berwarna kuning tua atau kecoklatan, pada penyakit hati pigmen empedu mewarnai urin menjadi hijau, coklat, atau kuning tua. Darah (hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urin. Urin sangat asam mengendapakan garam-garam asam urat dengan warna dadu.
5. Urin segar beraroma sesuai dengan zat-zat yang dimakan.

D. Unsur-unsur dalam urin
1. Unsur-unsur normal dalam urin.
a. Urea (25-30 gram) merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia.
b. Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urin segar. Pada penderita diabetes millitus, kandungan amonia dalam urinnya sangat tinggi.
c. Kreatinin dan kreatin (kreatinin : produk pemecahan kreatin), normalnya 20-26 mg/kg pada laki-laki, dan 14-22 mg/kg pada perempuan.
d. Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purin dalam tubuh. Asam urat sangat sukar larut dalam air, tetapi mengendap membentuk garam-garam yang larut dengan alkali. Pengeluaran asam urat meningkat pada penderita leukimia, penyakit hati berat.
e. Asam amino: hanya sedikit dalam urin. Pada penderita penyakit hati yang lanjut karena keracunan, maka jumlah asam amino yang diekskresikan meningkat.
f. Klorida (terutama NaCl), pengeluarannya tergantung dari masukan.
g. Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur pada makanan.
h. Fosfat di urin adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat, berasal dari makanan yang mengandung protein berikatan denagn fosfat.
i. Oksalat dalam urin rendah. Pada penderita hiperoksaluria jumlah oksalat relatif tinggi.
j. Mineral: Na, Ca, K, Mg ada sedikit dalam urin.
k. Vitamin, hormon dan enzim dalam urin sedikit.

2. Unsur abnormal dalam urin.
Protein: Proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urin dengan konsentrasi abnormal. Proteinuria fisiologis terdapat + 0.5% protein, ini dapat terjadi setelah latihan berat, setelah makan banyak protein, atau sebagai akibat dari gangguan sementara pada sirkulasi ginjal bila seseorang berdiri tegak. Kasus kehamilan disertai Proteinuria sebesar 30-35%. Proteinuria patologis, disebabkan karena adanya kelainan dari organ ginjal karena sakit.

Misalnya nefrosklerosis suatu bentuk vaskuler penyakit ginjal, dihubungkan dengan hipertensi arterial. Proteinuria pada penyakit ini meningkat dengan makin beratnya kerusakan ginjal. Proteinuria dapat juga terjadi karena keracunan tubulus ginjal oleh logam-logam berat (raksa(Hg), arsen(As), bimut(Bi)).

Glukosa: glukosuria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi (pertandingan atletik yang menegangkan), 15% kasus glikosuria tidak karena diabetes. Galaktosuria dan laktosuria dapat terjadi pada ibu selama kehamilan, laktasi maupun menyapih. Pentosuria terjadi sementara sesudah makan makanan yang mengandung gula pentosa. Benda-benda keton dapat terjadi pada saat kelaparan, diabetes, kehamilan, anestesia eter. Terdapat bilirubin, dan adanya kandungan darah karena kerusakan pada ginjal.

E. Gangguan Pada Ginjal
Beberapa kelainan dan gangguan fungsi ginjal adalah sebagai berikut.
1. Nefritis
Nefritis : kerusakan pada glumerulus akibat alergi racun kuman, biasanya disebabkan oleh bakteri Steptococcus. Nefritis mengakibatkan seseorang menderita Uremia dan oedema. Uremia: masuknya kembali asam urin dan urea ke pembuluh darah. Oedema adalah penimbunan air di kaki karena reabsorpsi air terganggu.

2. Batu ginjal
Batu ginjal terbentuk karena pengendapan garam kalsium di dalam rongga ginjal, saluran ginjal, atau kantong kemih. Batu ginjal berbentuk kristal yang tidak larut. Kandungan batu ginjal adalah kalsium oksalat, asam urat, dan kristal kalsium fosfat. Endapan garam ini terbentuk jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi garam mineral dan terlalu sedikit mengonsumsi air.

3. Albuminuria
Albuminuria adalah ditemukannya albumin pada urin. Adanya albumin dalam urin merupakan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endotelium. Selain itu dapat juga disebabkan oleh iritasi sel-sel ginjal karena masuknya substansi seperti racun bakteri, eter, atau logam berat.

4. Glikosuria
Glikosuria adalah ditemukannya glukosa pada urin. Adanya glukosa dalam urin menunjukkan adanya kerusakan pada tabung ginjal.

5. Hematuria
Hematuria adalah ditemukannya sel darah merah dalam urin. Hematuria disebabkan peradangan pada organ urinaria atau iritasi akibat gesekan pada batu ginjal.

6. Ketosis
Ketosis adalah ditemukannya senyawa keton di dalam darah. Hal ini dapat terjadi pada orang yang melakukan diet karbohidrat.

7. Diabetes Militus
Diabetes militus adalah penyakit yang disebabkan pankreas tidak menghasilkan atau hanya menghasilkan sedikit insulin. Insulis : hormon yang mampu mengubah glukosa menjadi glikogen sehingga mengurangi kadar gula dalam darah. Selain itu, Insulis juga membantu jaringan tubuh menyerap glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Diabetes militus juga dapat terjadi jika sel-sel di hati, otot, dan lemak memiliki respons rendah terhadap insulin. Kadar glukosa di urin penderita diabetes militus sangat tinggi. Ini menyebabkan sering buang air kecil, cepat haus dan lapar, serta menimbulkan masalah pada metabolisme lemak dan protein.

8. Diabetes Insipidus
Diabetes Insipidus adalah penyakit yang menyebabkan penderita mengeluarkan urin terlalu banyak. Penyebabnya adalah kekurangan hormon ADH (dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang). Jika kekurangan ADH, jumlah urin dapat naik 20-30 kali lipat dari keadaan normal.

BAB III.
METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan :

1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Penjepit
4. Pembakar spritus
5. Korek
6. Urin
7. Larutan biuret
8. Larutan benedict
9. Larutan AgNO3

B. Cara Kerja
· Kegiatan 1,
Mengetahui bau amoniak dari hasil penguraian urea dalam urin
1. Memasukkan 1 ml urin kedalam tabung reaksi
2. Menjepit dengan penjepit tabung reaksi
3. Memanaskan sampai mendidih dengan lampu spiritus
4. Mengetahui baunya

· Kegiatan 2,
Mengenal kandungan klorida dalam urin
1. Memasukkan 2 ml urin kedalam tabung reaksi
2. Menambahkan 5 tetes larutan AgNO3
3. Mengetahui perubahan setelah nya
4. Memberikan alasan kenapa bisa terjadi

· Kegiatan 3,
Uji protein
1. Memasukkan 2 ml urin kedalam tabung reaksi
2. Menambahkan 5 tetes larutan biuret, dan membiarkan selama 5 menit
3. Mengamati perubahan warna yang terjadi
4. Menyimpulkan tentang urin yang telah di uji

· Kegiatan 4,
Uji glukosa
1. Memasukkan 2 ml urin kedalam tabung reaksi
2. Menambahkan 5 tetes larutan benedict
3. Menjepit dengan penjepit, kemudian memanaskan dengan lampu spritus
4. Mencatat perubahan warna yang terjadi
5. Menyimpulkan tentang urin yang telah di uji.

Untuk selengkapnya silahkan menuju ke link sumber : http://cuk-ing.blogspot.com/2013/05/uji-urine.html

0 Response to "Contoh Laporan Karya Ilmiah Biologi Sederhana"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel